Keutamaan Makan Sahur

Keutamaan Makan Sahur

Banyak dari kita yang malas untuk bangun sahur. Alasannya bisa macam-macam. Ada yang tidak selera makan begitu bangun tidur, ada pula yang sangat lelah sehingga lebih memilih tidur. Padahal, makan sahur itu termasuk sunah puasa lho!

Seperti apa penjelasannya? Dan apa saja sunah-sunah puasa yang lain?

Berikut kami akan menjabarkan beberapa hal yang disunnahkan ketika puasa :

1. MAKAN SAHUR DAN MENGAKHIRKANNYA
Makan sahur hendaknya tidak ditinggalkan walaupun hanya dengan seteguk air sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Sahur adalah makanan yang penuh berkah. Oleh karena itu, janganlah kalian meninggalkannya sekalipun hanya dengan minum seteguk air. Karena sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur.”

HR. Ahmad 3/12, dari Abu Sa’id Al Khudri. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya.

Disunnahkan untuk mengakhirkan waktu sahur hingga menjelang fajar. Hal ini dapat dilihat dalam hadits berikut. Dari Anas, dari Zaid bin Tsabit, ia berkata,

“Kami pernah makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian kami pun berdiri untuk menunaikan shalat. Kemudian Anas bertanya pada Zaid,

”Berapa lama jarak antara adzan Shubuh dan sahur kalian?”

Zaid menjawab, ”Sekitar membaca 50 ayat”. Dalam riwayat Bukhari dikatakan, “Sekitar membaca 50 atau 60 ayat.”

Ibnu Hajar mengatakan, “Maksud sekitar membaca 50 ayat artinya waktu makan sahur tersebut tidak terlalu lama dan tidak pula terlalu cepat.” Al Qurthubi mengatakan, “Hadits ini adalah dalil bahwa batas makan sahur adalah sebelum terbit fajar.”

Di antara faedah mengakhirkan waktu sahur sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar yaitu akan semakin menguatkan orang yang berpuasa.

Ibnu Abi Jamroh berkata, “Seandainya makan sahur diperintahkan di tengah malam, tentu akan berat karena ketika itu masih ada yang tertidur lelap, atau barangkali nantinya akan meninggalkan shalat shubuh atau malah akan begadang di malam hari.”

2. MENYEGERAKAN BERBUKA
Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”

HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098, dari Sahl bin Sa’ad.

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat maghrib selesai dikerjakan. Inilah contoh dan akhlaq dari suri tauladan kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.”

HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad 3/164. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih

3. BERDOA KETIKA BERBUKA
Perlu diketahui bersama bahwa ketika berbuka puasa adalah salah satu waktu terkabulnya do’a. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak :

(1) Pemimpin yang adil,
(2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka,
(3) Do’a orang yang terdzolimi.”

HR. Tirmidzi no. 2526 dan Ibnu Hibban 16/396. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya do’a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri. Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 7/194.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berbuka beliau membaca do’a berikut ini ?

“Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah”

Artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah

HR. Abu Daud no. 2357. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.

4. MEMBERI MAKAN ORANG YANG BERBUKA
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.”

(HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, dari Zaid bin Kholid Al Juhani. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.)

5. LEBIH BANYAK BERDERMA DAN BERIBADAH DI BULAN RAMADHAN
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih banyak lagi melakukan kebaikan di bulan Ramadhan. Beliau memperbanyak sedekah, berbuat baik, membaca Al Qur’an, shalat, dzikir dan i’tikaf.” (Zaadul Ma’ad, 2/25)

Demikian Ade, Kaka, Ayah, Bunda serta Sobat IbnuSyamil semoga kita senantiasa dimudahkan untuk menghidupkan bulan Ramadhan dengan sunah-sunah puasa. Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Ayah dan Bunda Serta Sobat IbnuSyamil.
Ayoo Ayah Bunda kita berikan hadiah kaos Islami IbnuSyamil Untuk Anak Kita.
Silahkan berbelanja kurma, kaos muslim, koko, gamis di IbnuSyamil Store
Jl. Achmad Adnawijaya No.100A, Tegal Gundil, Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat, 16152 Indonesia
Untuk Pemesanan Bisa Via WA 1 : 081297298646 Atau WA 2 : 087873992990

Mendidik Anak Si Bulan Ramadhan

Mendidik Anak Si Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan merupakan furshah (kesempatan emas) untuk mendidik anak mengajarkan terbiasa beribadah sejak dini. Bukan hanya ibadah puasa saja, tapi juga ibadah lainnya, seperti sholat, Al Qur’an, sunah, sedekah, zakat dlsb.

1. Shalat Wajib dan Tarawih Tepat Waktu dan Berjama’ah
Dari Ummu Farwah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, amalan apakah yang paling afdhol. Beliau pun menjawab, “Shalat di awal waktunya.” (HR. Abu Daud no. 426. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Kita tahu bahwasanya seorang anak yang berumur 7 tahun atau 10 tahun belum baligh, belum wajib untuk shalat, akan tetapi orangtua diperintahkan untuk mendidik mereka.

Artinya bahwa jika orangtua membiarkan anak-anaknya tidak shalat pada umur 10 tahun maka orangtua yang berdosa, orangtua yang salah jika sehingga anaknya setelah besar tidak shalat karena saat anaknya masih kecil orangtua tidak perhatian dan tidak memerintahkan shalat.

2. Puasa
Disebutkan dalam atsar dari Rab?’ Bintu Muawwidz radhiyall?hu ‘anh? mengatakan:

Kami dahulu para shah?bat berpuasa dan kami memerintahkan anak-anak untuk berpuasa. Kami buatkan mainan bagi mereka mainan yang terbuat dari kain wol.” (kalau salah seorang anak menangis maka kami berikan mainan tersebut sampai mereka lupa/lalai sehingga datang waktu berbuka puasa). (HR. Bukhari)

Jadi, mereka para salaf dahulu melatih anak-anak mereka untuk melaksanakan ibadah puasa sejak kecil.
Ini adalah atsar yang sangat agung yang menjelaskan bagaimana perhatian para ulama salaf, selain mereka berpuasa juga mereka melatih anak-anak mereka untuk melaksanakan ibadah puasa, bahkan mereka berusaha membantu dengan membuat mainan untuk anak-anak.

Ini kita mengajari kepada anak tentang pentingnya bersabar menunggu ifthar, pentingnya pengorbanan. Kita jelaskan kepada anak-anak tentang:

• Keutamaan puasa
• Pahala-pahala besar yang tanpa batas yang All?h sediakan bagi orang yang berpuasa
• Adanya pintu surga yang bernama “Rayyan”
• Bagaimana orang yang berpuasa akan bergembira tatkala bertemu dengan All?h Subh?nahu wa Ta’?la

Sehingga mereka termotivasi sejak kecil untuk melaksanakan ibadah puasa.

3. Al Qur’an dan As Sunnah
Setiap muslim pasti sering mendengar bahwa bulan Ramadhan adalah bulannya Al-Quran. Karena memang sangat banyak sekali dalil yang menunjukkan hal ini.

Pada kesempatan Ramadan, Ayah Bunda bisa menjadwalkan rutin untuk ananda belajar Al Qur’an. Dari belajar tajwid, tafsir Al Qur’an hingga kisah-kisah terbaik yang penuh hikmah, dengan gaya bahasa anak yang mudah dimengerti oleh mereka tentunya.

Selain itu, bisa ajarkan anak-anak sunah bulan Ramadan, seperti mengakhirkan sahur, menyegerakan berbuka, mengkhatamkan Al Qur’an, memberi makan orang berbuka dsb.

4. Sirah Nabawiyah
Diantara manfaat yang kita peroleh dari memahami sejarah nabi adalah mengetahui contoh teladan terbaik dalam menjalani kehidupan ini.

5. Adab dan Akhlak
SECARA etimologi, kata “adab” dimaknai sebagai kehalusan dan kebaikan budi pekerti; kesopanan; akhlak. Bahwa berpuasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah Subh?nahu wa Ta’?la. Tanamkan kejujuran dan perkataan yang baik, harus mampu menahan amarah dlsb.

6. Sedekah & Zakat
Sesuai hadits, sedekah yang terbaik adalah sedekah pada bulan Ramadan. Ayah Bunda bisa membuat proyek sedekah bersama ananda. Misal : Menyisihkan uang jajan mereka Rp. 2000/hari, atau menyortir dari lemari baju yang sudah tidak muat tetapi masih layak pakai, membuat parcel berisi beragam alat tulis – untuk diberikan kepada anak panti asuhan. Atau bisa juga mengajak ananda untuk berbuka bersama di panti asuhan.

Ayah Bunda bisa mengajarkan kepada anak penjelasan tentang zakat, takaran, rukun dan syarat sahnya. Libatkan mereka dari proses menimbang sampai pendistribusian ke masjid.

7. Umrah di Bulan Ramadhan
Jika Ayah bunda memiliki rejeki lebih, bisa mengajak ananda untuk melakukan ibadah Umrah.
Beribadah umrah bisa dilakukan sepanjang tahun. Tetapi umrah di bulan Ramadhan mempunyai nilai pahala yang lebih tinggi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umrah di bulan Ramadhan (pahalanya) menyerupai haji” (HR. Tirmidzi)

Bimbingan tersebut di atas harus secara kontinyu dipupuk di bulan Ramadhan, sehingga setelah puasa berakhir anak telah terbentuk kebiasaan, pengetahuan dan insyaAllah karakter yang baik. Dan harapannya orang tua tinggal melanjutkan saja di luar bulan Ramadan.

“Harta terindah dan terbaik yang dimiliki orangtua yaitu anak shalih karena anak shalih tersebut akan memberi manfaat kepada orangtua jika dia telah meninggal dunia.”

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Ayah dan Bunda Serta Sobat IbnuSyamil.
Ayoo Ayah Bunda kita berikan hadiah kaos Islami IbnuSyamil Untuk Anak Kita.
Silahkan berbelanja kurma, kaos muslim, koko, gamis di IbnuSyamil Store
Jl. Achmad Adnawijaya No.100A, Tegal Gundil, Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat, 16152 Indonesia
Untuk Pemesanan Bisa Via WA 1 : 081297298646 Atau WA 2 : 087873992990

Keutamaan Lailatul Qadr

Keutamaan Lailatul Qadr

Lailatul qadr adalah malam yang terbaik dalam setahun dan penuh dengan taufik. Orang yang berbahagia adalah orang yang dimudahkan oleh Allah dan bersungguh-sungguh dalam beramal saleh di malam itu. Hal itu dikarenakan semua amalan di malam itu pahala dan nilainya tidak sama seperti amalan yang dikerjakan di malam-malam lainnya.

Lailatul qadr adalah malam Al-Qur`an diturunkan dan Allah Ta’ala telah menyifatinya sebagai malam yang diberkahi, dan itu menunjukkan keutamaan dan keagungannya. Allah Ta’ala berfirman:

إنا أنزلناه في ليلةٍ مباركة

“Sesungguhnya kami menurunkannya pada malam yang diberkahi.” (QS. Ad-Dukhan: 1)

Lailatul qadr terdapat di dalam bulan ramadhan, karena Al-Qur`an diturunkan di dalam bulan ramadhan. Sebagaimana pada

firman Allah Ta’ala:

شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن

“Bulan ramadhan adalah bulan yang Al-Qur`an diturunkan padanya.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Lebih lanjut Allah Ta’ala tegaskan dalam firmannya:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr: 1-5).

Dalam surat Al Qadr di atas, ada beberapa keutamaan Lailatul Qadar yang disebutkan yang kami uraikan berdasarkan tafsiran para ulama sebagaimana berikut:

Pertama: Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan

Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud lebih baik dari seribu bulan adalah malam Lailatul Qadar lebih baik dari 1000 bulan, yaitu untuk amalan, puasa, dan shalat malam yang dilakukan ketika itu lebih baik dari seribu bulan.
Mujahid juga berkata bahwa lailatul qadar itu lebih baik dari 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar. Pendapat ini juga menjadi pendapat Qotadah bin Da’amah dan Imam Syafi’i. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 609).

Jika ibadah dalam lailatul qadar sama dengan ibadah di seribu bulan lamanya, maka ada keutamaan mendirikan shalat malam ketika itu sebagaimana disebutkan dalam hadits muttafaqun ‘alaih, dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang menghidupkan lailatul qadar dengan shalat malam atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 760).

Kedua: Malaikat turun pada malam tersebut membawa keberkahan dan rahmat

Allah Ta’ala berfirman:

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ

“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. ”

Malaikat ketika malam penuh kemuliaan tersebut turun ke muka bumi. Itu menandakan bahwa malam tersebut banyak keberkahan. Malaikat setiap kali turun tentu membawa keberkahan dan rahmat. Sebagaimana malaikat membawa keberkahan ketika mendatangi halaqoh ilmu. Sampai-sampai mereka meletakkan sayapnya karena ridho pada penuntut ilmu.

Sedangkan yang dimaksud dengan “ar ruh” dalam surat Al Qadr adalah malaikat Jibril. Penyebutan Jibril di situ adalah penyebutan khusus setelah sebelumnya disebutkan mengenai malaikat secara umum.

Sedangkan maksud “min kulli amr” dalam ayat tersebut adalah bahwa ketika itu datang keselamatan atau kesejahteraan untuk setiap urusan (perkara).

Ketiga: Setan tidak bisa bertingkah jahat pada malam Lailatul Qadar

Allah Ta’ala berfirman:

سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” Yang dimaksud di sini adalah pada malam tersebut penuh dengan keselamatan. Mujahid berkata bahwa setan tidak bisa melakukan kejelekan atau mengganggu manusia pada malam tersebut. Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, (7: 610).

Ibnu Zaid dan Qotadah berkata bahwa pada malam lailatul qadar hanya ada kebaikan saja, tidak ada kejelekan hingga terbit fajar. Lihat idem.

Keempat: Pada malam tersebut ditetapkan takdir ajal dan rezeki

Ketika menafsirkan ayat terakhir, Ibnu Katsir membawakan perkataan Qotadah dan ulama lainnya bahwasanya pada lailatul qadar diatur berbagai macam urusan. Ketika itu ajal dan berbagai rezeki ditetapkan. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam ayat lainnya:

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhon: 4).

Kelima: Keselamatan dan rahmat bagi yang menghidupkan lailatul qadar di masjid

Asy Sya’bi berkata mengenai ayat:

مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

“Untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar“, yaitu kata beliau bahwa keselamatan dan malaikat datang pada malam tersebut bagi ahli masjid, itu berlangsung hingga datang fajar (Shubuh). Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 610.

Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata, “Berbagai hadits yang mutawatir membicarakan tentang keutamaan lailatul qadar dan dijelaskan bahwa malam tersebut terdapat di bulan Ramadhan. Malam tersebut terdapat di sepuluh hari terakhir terkhusus pada malam-malam ganjil. Malam penuh kemuliaan itu tetap terus ada setiap tahunnya hingga hari kiamat. Karena kemuliaan malam tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan i’tikaf dan memperbanyak ibadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Dengan melakukan hal itu, beliau berharap bisa berjumpa dengan lailatul qadar.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 931).

Semoga Allah memudahkan kita untuk meraih malam yang penuh kemuliaan, kebaikan dan keberkahan tersebut..Aamiin

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Ayah dan Bunda Serta Sobat IbnuSyamil.
Ayoo Ayah Bunda kita berikan hadiah kaos Islami IbnuSyamil Untuk Anak Kita.
Silahkan berbelanja kurma, kaos muslim, koko, gamis di IbnuSyamil Store
Jl. Achmad Adnawijaya No.100A, Tegal Gundil, Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat, 16152 Indonesia
Untuk Pemesanan Bisa Via WA 1 : 081297298646 Atau WA 2 : 087873992990

Fikih Ringkas Mengenai I’tikaf

Fikih Ringkas Mengenai I’tikaf

I’tikaf secara bahasa berarti menetap pada sesuatu. Sedangkan secara syar’i, i’tikaf berarti menetap di masjid dengan tata cara yang khusus disertai dengan niat.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.” HR. Bukhari dan Muslim.

Diantara ibadah sunnah yang dianjurkan bagi umat Islam adalah i’tikaf, lebih ditekankan lagi di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam amalkan.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat. Muttafaqun ‘alaih. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Untuk mendapatkan kesempurnaan pahala ibadah itikaf tentunya dibutuhkan ilmu yang cukup, dalam kesempatan ini kami paparkan secara ringkas beberapa hukum seputar itikaf.

1. Definisi
I’tikaf secara bahasa berdiam diri di suatu tempat. Adapun secara istilah adalah berdiam diri di masjid dengan niat i’tikaf dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah yang dilakukan oleh orang orang tertentu.

2. Hukum
I’tikaf hukumnya sunnah, boleh dilakukan kapan saja. Dibulan Ramadhan lebih dianjurkan, baik sebulan penuh maupun di 10 malam terakhir atau lebih ditekankan lagi di malam malam ganjil dalam rangka mencari lailatul qadar.

Dari Aisyah radhiyallahu Anha bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam melakukan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir di bulan ramadhan sampai Allah mewafatkannya. Kemudian istri istrinya juga melakukan i’tikaf sepeninggal beliau”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata, i’tikaf dianjurkan setiap waktu dan disepuluh malam terakhir bulan Ramadhan lebih utama dalam rangka meraih lailatul qadar.

3. Syarat-Syarat I’tikaf

a. Hendaknya orang yang beri’tikaf adalah seorang muslim, mumayyiz dan berakal
b. Niat, setiap ibadah membutuhkan niat, karena niat adalah pembeda antara ibadah dan adat (kebiasaan), berapa banyak orang duduk-duduk di masjid akan tetapi tidak ada niat untuk beri’tikaf dan beribadah akan tetapi hanya menumpang istirahat dan berteduh.
c. Hendaknya i’tikaf dilakukan dimasjid
d. Hendaknya masjid yang dia gunakan beri’tikaf adalah masjid yang didalamnya didirikan shalat berjamaah dan shalat jumat
e. Suci dari hadats besar

4. Tempat Beri’tikaf

I’tikaf hanya dilakukan dimasjid. Allah berfirman,
“Janganlah kalian campuri mereka itu, sedangkan kalian beri’tikaf dalam masjid” (QS. Al Baqarah:187).
Secara umum diperbolehkan i’tikaf di masjid jami’ (diselenggarakan shalat jamaah dan jumat) dan masjid ghoiru jami’ namun para ulama menganjurkan beri’tikaf dimasjid jami’ (masjid yang diselenggarakan shalat jamaah dan jum’at), karena jika seseorang i’tikaf karena nadzar yang mengharuskan berdiam diri dalam waktu tertentu atau orang yang beri’tikaf 10 hari secara penuh sedangkan dia i’tikaf dimasjid ghoiru jami’, maka ketika ia hendak salat jum’at yang mengharuskan ia keluar menuju masjid jami’ hal ini bisa membatalkan i’tikaf.

5. Batas Waktu i’tikaf

Mayoritas ulama tidak membatasi waktu i’tikaf, baik batas minimal maupun maksimal. Bahkan ulama menilai sebagai i’tikaf walaupun seseorang hanya duduk dimasjid beberapa detik, namun tidak dinilai i’tikaf hanya dengan berjalan melewati masjid. Adapun imam Malik mengatakan bahwa batas minimal itikaf adalah sehari semalam. Hal ini berlaku makna i’tikaf secara umum berbeda dengan i’tikaf secara khusus di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan secara penuh sebagaimana yang dilakukan Rasulullah, disana berlaku ketentuan-ketentuan tersendiri baik waktunya, pembatal pembatalnya dan hukum hukum yang berkaitan dengannya.

6. Memulai i’tikaf dan mengakhiri i’tikaf

Terdapat riwayat dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata:
“Bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam apabila hendak i’tikaf beliau salat fajar kemudian masuk ke tempat i’tikafnya.” [HR. Al Bukhari dan Muslim].

Secara Dzohir hadis ini menunjukkan bahwa awal waktu beri’tikaf adalah setelah salat subuh dimalam ke 21 ramadhan dan ini pendapat Imam Ahmad, Al Auza’ dan juga Imam As-Shon’ani.

Adapun mayoritas ulama berpendapat bahwa awal waktu beri’tikaf adalah sebelum terbenamnya matahari dimalam ke 21, ini pendapat yang kuat dengan dua alasan,

Pertama: tujuan utama i’tikaf adalah mencari lailatul qadar, terutama di sepuluh malam terakhir. Dan awal permulaannya adalah malam ke 21 dengan dimulai terbenamnya matahari dari malam ke 21.
Kedua: orang yang memulai beri’tikaf sebelum terbenam matahari pada malam ke 21 artinya ia hendak i’tikaf 10 hari terakhir dibulan ramadhan secara penuh, adapun yang memulai setelah salat subuh tidak dinilai beri’tikaf 10 hari secara penuh karena terlewat satu malam yaitu malam ke 21.

Adapun waktu terakhir i’tikaf, mayoritas ulama menganjurkan beri’tikaf sampai waktu saat ia keluar untuk melakukan salat id, dengan harapan agar tersambung antara ibadah ke ibadah berikutnya. Sebagian ulama mengatakan waktu terakhir adalah sampai terbenamnya matahari di malam hari raya, karena 10 hari terakhir itu berakhir dengan berakhirnya bulan, dan ramadhan berakhir dengan terbenamnya matahari di malam hari raya.

7. Faidah i’tikaf

Dengan i’tikaf kita bisa memaksimalkan diri kita untuk beribadah kepada Allah. Imam An-nawawi dalam kitab Al-Adzkar berkata: Dianjurkan memperbanyak membaca Al-Quran dan bacaan dzikir lainnya.

I’tikaf juga memiliki beberapa faidah, diantaranya:
a. Meninggalkan kesibukan-kesibukan urusan dunia yang terkadang membuat ibadah tidak maksimal, dengan beitikaf ibadah akan semakin maksimal.
b. Lebih mendekatkan diri kepada Allah, lebih konsentrasi dalam bermunajat dengan-Nya karena hati dan pikiran telah dikosongkan dari segala hal menyibukkan dan melalaikan dari-Nya.
c. Menghidupkan dan mencontoh sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam
d. Lebih mudah menggapai lailatul Qadar

8. Pembatal I’tikaf

a. Keluar dari masjid untuk selain suatu keperluan darurat seperti buang hajat atau keluar mencari makan karena tidak mendapati makanan di masjid. Orang yang i’tikaf tidak boleh menjenguk orang sakit, salat jenazah diluar, bahkan itikaf dinilai batal sekalipun orang yang keluar ke masjid jami’ untuk shalat jumat karena dia i’tikaf di masjid yang tidak didirikan shalat jumat, maka dari itu para ulama menganjurkan i’tikaf di masjid yang didirikan shalat jumat.
b. Hubungan intim suami istri. Allah berfirman:
“Tetapi jangan kalian campuri mereka, ketika kalian beri’tikaf dalam masjid.” (Al-Baqarah:187)
c. Hilang akal
d. Haid dan nifas bagi wanita, karena keduanya tidak boleh berdiam diri di masjid
e. Murtad

Inilah Fikih Ringkas Mengenai I’tikaf, Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Ayah dan Bunda Serta Sobat IbnuSyamil. Ayoo Ayah Bunda kita berikan hadiah kaos Islami IbnuSyamil Untuk Anak Kita.
Silahkan berbelanja kurma, kaos muslim, koko, gamis di IbnuSyamil Store
Jl. Achmad Adnawijaya No.100A, Tegal Gundil, Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat, 16152 Indonesia

Untuk Pemesanan Bisa Via WA 1 : 081297298646 Atau WA 2 : 087873992990