Raihlah Cinta Si Buah Hati

Raihlah Cinta Si Buah Hati

Hendaklah orang tua berusaha untuk meraih “cinta dari anak”. Hal ini diperlukan agar anak mau dan mudah diajak oleh orang tuanya untuk taat kepada Allah ta’ala dan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam serta berbakti kepada kedua orang tuanya. Lanjutkan membaca →

Anak Tunggal Tak Selalu Egois

Anak Tunggal Tak Selalu Egois

Selama ini orang sering memberikan label negatif pada anak tunggal. Padahal bila pola pengasuhan dilakukan dengan benar, anak tunggal pun bisa mandiri dan menaruh perhatian pada orang lain. Komentar-komentar akibat suatu kenakalan si anak tunggal sering terlontar sebagai akibat karena mereka dilahirkkan sebagai anak tunggal. Padahal hal yang sama tersebut juga kerap dilakukan oleh mereka yang masing-masing bukan anak tunggal.
Memang perilaku (sebutlah, kenakalan) yang menghinggapi anak tunggal tidak muncul begitu saja. Lanjutkan membaca →

Anak Anda Adalah Cermin Diri Anda

Anak Anda Adalah Cermin Diri Anda

Kita Mengetahui bahwa ketika lahir manusia sangat tergantung kepada orang lain, terutama orangtua, dan lebih khusus lagi kepada ibu. Di masa anak-anakpun ketergantungan itu masih sangat tampak. Karena ketergantungan itu, maka penting sekali peranan orangtua terhadap perkembangan kepribadian anak. Para pakar psikologi sejak lama mengatakan bahwa pengaruh orangtua dan lingkungan masa kanak-kanak tidak berhenti di masa kanak-kanak saja, melainkan terus berlangsung terus, kadang-kadang sampai seumur hidup. Tak jarang pengaruh pengalaman masa kanak-kanak itu tidak disadari oleh orang yang bersangkutan, karena tersimpan dalam alam ketidaksadarannya (alam bawah sadar). Tetapi kemudian hal itu muncul dalam tingkah laku yang tidak wajar dan yang tidak dimengerti oleh pelakunya sendiri.

Para ahli juga mengatakan bahwa dalam perkembangan kepribadiannya, seorang anak selalu membutuhkan tokoh identifikasi. Identifikasi berarti dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan orang yang ditokohkan. Biasanya diawal masa kanak-kanak, tokoh yang ingin di samai adalah ayah dan ibunya. Dalam proses identifikasi itu, anak meniru sikap-sikap, norma-norma, nilai-nilai kebiasaan-kebiasaan, gerak-gerik dan sebagainya dari tokoh identifikasi. Bukan hanya secara lahiriah, secara batinpun anak ingin menjadi identik dengan orang yang ditokohkannya.

Sejalan dengan bertambahnya usia anak, lingkungan kehidupan juga bertambah luas. Dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan  ke bulan, dan seterusnya, semakin banyak orang yang ditemui oleh anak dan yang berintaraksi dengannya. Sehingga, akan sangat mungkin di masa-masa berikutnya anak akan menjadikan orang-orang dewasa lain sebagai tokoh identifikasinya. Bisa saja guru-gurunya, orang tua temannya, pamannya atau bahkan tokoh-tokoh yang disaksikannya di media massa, seperti televisi, game-game playstation, game online, internet, dan lain-lain.

Seandainya sikap, tingkah laku dan pandangan orang yang diidolakan oleh anak baik dan sejalan dengan ajaran agama dan akhlak yang luhur, tentu tak ada masalah. Tetapi apabila tidak demikian, maka persoalannya tidak akan sederhana. Jika anak Anda telah mengidolakan orang-orang yang tak patut dijadikan teladan, maka bersiap-siaplah Anda untuk meratapi nasib buruk anda di kemudian hari.

Karenanya, tidak ada pilihan lain selain kita menyiapkan diri kita untuk menjadi orangtua dalam arti yang sebenarnya, yang patut dijadikan teladan, yang pantas dibuat cerminan.  Sejak lama orang percaya dan memang terlihat dalam kehidupan nyata bahwa pendidikan  dengan memberikan keteladanan adalah suatu bentuk pendidikan terpenting, apalagi di masa kanak-kanak. Yakinlah bahwa anak-anak kita akan lebih terpengaruh oleh apa yang kita lakukan dari pada apa yang kita katakan.

Selain kita terus mengupayakan agar dapat meningkatkan kualitas kita sebagai orang yang layak dijadikan panutan, kitapun sejak dini dapat dan mesti mengenalkan kepada anak tokoh-tokoh dalam Islam sebagai panutan mereka. ALangkah pantasnya bila sejak dini kita mengenalkan kehidupan Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan tokoh-tokoh Islam lainnya dengan cara yang menarik perhatian mereka dan berbekas secara mendalam di dalam hati mereka.

Kalau anda ingin mengetahui apakah seseorang itu sukses atau tidak dalam kehidupan dalam arti yang sesungguhnya, lihatlah anak-anaknya. Apakah mereka itu berakhlak baik atau tidak, menjalankan ajaran agama atau tidak. Dengan mengetahui anak-anaknya, anda akan dapat menyimpulkan bahwa orangtuanya itu orangtua yang berhasil seingga patut berbahagia dan tersenyum gembira ataukah ia orang yang sengsara yang lebih pantas untuk meratapi nasibnya yang merana. Begitu pun Anda, Kalau Anda ingin tahu siapa Anda yang Sesungguhnya, tengoklah anak-anak Anda.  Mereka adalah cermin diri Anda!.

Cara Mengatasi Anak Sulit Belajar Mengaji Secara Baik & Berhasil

Cara Mengatasi Anak Sulit Belajar Mengaji Secara Baik & Berhasil

Saat ini banyak sekali orang tua yang memprogramkan anak-anak mereka untuk pintar mengaji, bahkan sejak dini banyak sekali orang tua yang selalu mencari tempat dan menambah jam belajar anak khususnya untuk mengaji. Bahkan waktu liburan sekolah kemarin, banyak juga orang tua yang tetap menambah belajar mengaji anak dengan cara belajar di pondok pesantren. Sungguh sangat menyenangkan bila anak-anak kita yang masih kecil bahkan pada usia dini, mereka sudah bisa menglafalkan ayat-ayat suci Al Quran dengan baik dan fasih.

Namun tidak semua anak yang mau untuk belajar mengaji karena mereka beranggapan belajar mengaji sangat sulit. Dan orang tua sendiri juga tidak bisa berbuat banyak ketika anak-anak mereka sudah diikutkan dalam belajar mengaji secara kilat atau kursus mengaji. Jika anak mengalami kesulitan dalam belajar mengaji, ada beberapa cara mengatasi anak sulit belajar mengaji, diantaranya yaitu:

Waktu Belajar Mengaji
Gunakan dan atur waktu belajar yang cocok dan pas untuk anak-anak sehingga mereka akan terbiasa untuk mulai belajar mengaji saat waktu belajar sudah mulia tiba. Namun sebelumnya harus memberi tahu kepada sang anak kalau waktu belajar mengaji dimulai hari dan jam yang telah ditetapkan, jika anak tidak setuju dengan waktu yang ditentukan, berilah opsi atau pilihan kepada sang anak

Selian waktu yang ditentukan untuk belajar mengaji, informasikan juga kepad anak tentang waktu-waktu yang digunakan oleh sang anak. Misalnya waktu untuk bermain, waktu untuk istirahat, waktu untuk mandi, dan waktu untuk bebas tanpa belajar dan waktu-waktu yang lainnya. Dan tentunya, jangan pernah membatasi waktu anak secara ketat, atur secara fleksibel

Penjelasan Kenapa Harus Mengaji
Banyak orang tua yang menginginkan anak-anak mereka pandai dalam mengaji, namun tidak sedikit yang tidak pernah memberi penjelasan kepada anak kenapa anak harus mengaji? Memberi penjelsan kepada sang anak kenapa harus mengaji tidak hanya untuk anak saja, akan tetapi juga digunakan untuk anak ketika dia berada di lingkungan masyarakat atau di sekolah. Misalkan ada orang lain atau guru bertanya; Kenapa harus mengaji?

Untuk penjelasan kenapa harus belajar mengaji? Masing-masing orang tua memiliki cara dan penjelasan yang berbeda. Disini kami hanya sedikit memberi penjelasan secara sederhana saja

Al-Qur’an Always Everyday
Terbiasa dengan mendengarkan ayat-ayat Al Quran setiap hari akan memudahkan anak untuk terbiasa dengan Al Quran dan tentunya meraka akan ingin merasa tahu cara membaca Al Quran dan dari sinilah mereka akan memulai untuk belajar mengaji. Namun untuk membuat anak penasaran dengan ayat-ayat Al Quran yang didengarkan, jangan pernah mendengarkan anak-anak dengan lagu-lagu yang lain secara bersamaan

Disiplin dan Konsisten (Istiqomah)
Kebiasaan yang dilakukan orang tua terhadap anak-anak dalma hal apapun akan menghasilkan apa yang telah diajarkan orang tua kepada anaknya. Begitu juga dengan mengaji, membiasakan anak dan selalu mengajarkan anak mengaji akan membuat anak lebih mudah dalam belajar mengaji. Jika anak sedang tidak mood untuk mengaji, lakukan beberapa perubahan dalam mengajari anak belajar mengaji, jangan monoton atau membosankan. Misalnya menggunakan alat bantu berupa gambar atau layar bergerak

Sabar
Jangan pernah bosan dalam mengajari anak. Bahkan ketika anak sedang semangat-semangatnya untuk belajar mengaji dan orang tua tidak mood untuk memberi pelajaran mengaji, jangan biarkan rasa malas orang tua dalam mengajari anak menjadi boomerang. Karena jika anak tidak mendapatkan respon apa yang diinginkan, maka saat itulah anak juga mulai enggan untuk mengaji

Bersabarlah jika anak sangat lama dalam belajar mengaji, jika anak belum lancar-lancar dalam mengaji, jangan marah, jangan malas. Tanggungjawab orang tua selain memberi nafkah juga memberi ilmu yang bermanfaat untuk anak-anak

Rewards
Berilah apresiasi terhadap apa yang telah dilakukan oleh anak. Sekecil apapun yang berhasil dilakukan oleh seorang anak, hargai itu dan jangan pernah mengatakan sesuatu yang merendahkan dirinya dan melunturkan semangatnya. Berilah kebanggaan yang mendalam dengan yang dihasilkan anak. Dengan begitu anak akan merasa bangga dan selalu semangat untuk melakukannya lagi

Keteladanan Orang Tua
Ingin anak belajar mengaji secara otomatis tanpa perlu disuruh? Mengajilah!
Orang tua harus mengaji jika ingin anak-anak juga mengaji karena anak-anak pasti akan meniru dengan sendirinya jika melihat orang tua mengaji. Jadi jangan heran ketika anak bertanya saat mereka disuruh untuk mengaji dan menjawab seperti ini, “Mama Papa kok tidak mengaji?”, “Ayah Bunda, ajari adek ngaji ya..”, “Ayah Bunda, adek inginnya belajar mengaji sama bunda…”

Jika anak sudah menjawab dan meminta seperti itu, sedangkan orang tua tidak tahu bahkan tidak pernah mengaji, jangan heran jika anak tetap tidak mau belajar mengaji atau ogah-ogahan dalam mengaji

Jadi, dalam melatih dan mengajarkan anak untuk meperbuat hal-hal yang baik pasti menjadi sesuatu yang tidak bisa disepelekan. Karena pembangunan karakter anak hingga mereka dewasa nanti adalah berasal dari kebiasaan-kebiasaan yang baik yang telah dilakukan sejak dini

Begitu juga dengan mengajari anak untuk mengaji, tentunya yang menjadi kewajiban orang tua adalah orang tua harus bisa membaca Al Quran terlebih dulu.