Katakan, “Anakku … Dengarlah Kisah Orang-Orang yang Berbakti”

Sering-seringlah orang tua mengingatkan atau menceritakan kepada anak-anak tentang pahala yang akan diraih jika mereka berbakti kepada kedua orang tua.

Buah dari berbakti kepada kedua oran tua antara lain adanya keberkahan dalam umur, diluaskan rejeki, mendapatkan anak yang berbakti pula, sebab masuknya anak ke dalam surga, terhapusnya dosa, dikabulkannya doa, hilangnya kesultan hidup, mendapatkan pahala yang besar, mendapatkan ridha Allah dan lain-lain.

قال عبد الله بن مسعود رضي الله عنه سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم قلت : يا رسول الله أي العمل أفضل ؟ قال : الصلاة على ميقاتها . قلت : ثم أي ؟ قال : ثم بر الوالدين . قلت : ثم أي ؟ قال : الجهاد في سبيل الله

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu, dia berkata, ”Aku pernah bertanya kpada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, ’Amal apakah yang paling utama?’ Beliau bersabda, ’Shalat di awal waktunya.’ Aku bertanya lagi, ’Lalu apa?’ Beliau bersabda, ’Berbakti kepada kedua orang tua’Aku bertanya lagi, ’Lalu apa?’ Beliau bersabda, ’Jihad di jalan Allah.’” (HR. Bukhari & Musim)

من سره أن يمد له في عمره ويزاد له في رزقه فليبر والديه وليصل رحمه

”Barang siapa ingin agar umurnya dipanjangkan dan rejekinya ditambah, maka hendaklah ia berbuat baik kepada kedua orang tuanya dan menjalin hubungan dengan kerabatnya.” (HR Ahmad)

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَ سَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

 “Keridhaan Rabb ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb ada pada kemurkaan orang tua.” (HR. Bukhari dalam al Adabul Mufrad)

دخلت الجنة فسمعت فيها قراءة قلت من هذا ؟ فقالوا : حارثة بن النعمان فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم كذلكم البر كذلكم البر

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Aku pernah memasuki surga lalu mendengarkan suatu bacaan, lalu aku bertanya, ‘Siapakah itu?’ Lalu dijawab, ‘Haritsah bin Nu’man’”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demikianlah (pahala) orang yang berbakti, demikianlah (pahala) orang yang berbakti.” (HR. Tirmidzi, Hakim dan Ahmad)

Bundar adalah seorang ahli hadits di Bashrah dan belum pernah bepergian. Dia seorang yang berbakti kepada ibunya. Bundar berkata, “Aku hendak keluar –maksudnya bepergian untuk menuntut ilmu- lalu ibuku mencegahku. Aku un mentaatinya. Maka aku pun diberkahi.” (Siyar A’lamin Nubalaa’)

Dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu dia berkata, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan datang kepada kalian Uwais bin Amir bersama rombongan dari Yaman dari Murad, kemudian Qaran. Dia pernah berpenyakit sopak putih, lalu sembuh darinya kecuali bagian tubuh sebesar dirham. Dia memiliki seorang ibu yang dia sangat berbakti kepadanya, sekiranya dia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Jika kalian bisa meminta kepadanya untuk memohonkan ampunan kepada Allah, maka lakukanlah.” (HR. Muslim)

Ibnu Umar pernah berkata kepada seorang laki-laki, “Apakah engkau takut masuk neraka dan ingin masuk surga?” Aku menjawab, “Tentu”. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup”. “Aku masih mempunyai seorang ibu”, jawabku. Beliau berkata, “Demi Allah, sekiranya engkau lemah lembut dalam berbicara kepadanya dan memberinya makan, niscaya engkau benar-benar akan masuk surga selama engkau menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Bukhari dalam al Adabul Mufrad)

Bahkan berbakti kepada kedua orang tua dapat menebus dosa-dosa besar. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhu ia berkata, ”Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam lalu berkata, ’Sesungguhnya aku telah melakukan dosa besar, maka apakah aku masih bisa bertaubat?’ Maka beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bertanya, ’Apakah engkau masih memiliki ibu?’ Ia menjawab, ‘Tidak’. Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau memiliki bibi?’. Ia menjawab, ‘Ya’. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, ‘Maka berbaktilah kamu kepadanya.’” (HR. Tirmidzi)

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa seorang laki-laki mendatanginya lalu berkata, “Aku meminang seorang wanita, tetapi wanita itu menolak pinanganku. Dan (setelah kedatanganku), seorang laki-laki datang meminangnya dan dia menerimanya. Aku cemburu kepada wanita itu lalu membunuhnya, apakah ada taubat untukku?”. Ibnu Abbas lalu bertanya, ”Apakah ibumu masih hidup?”. Dia menjawab, ”Tidak”. Ibnu Abbas lalu berkata, ”Bertaubatlah kepada Allah dan mendekatlah kepada-Nya semampumu.”

Aku (Atha’) mendatanginya lalu bertanya kepadanya, ”Mengapa engkau bertanya kepadanya tentang ibunya?” Beliau menjawab, ”Aku tidak tahu amalan yang paling mendekatkan (seseorang) kepada Allah selain dari berbakti kepada ibu.” (HR. Bukhari dalam al Adab al Mufrad)

***

100 Kiat Bagi Orang Tua Agar Anak –insyaallah- Jadi Shalih Shalihah, Penulis Najmi bin Umar Bakkar Penerbit Perisai Quran

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *